Monday, November 20, 2006

Gambar Lagi





Thursday, November 02, 2006

Teruntuk Seorang Ukhti...

Kuharapkan kata MAAF darimu, bukan sekedar kata maaf. Bahkan lebih dari sebuah tekad bahwa daku takkan sanggup mengecewakanmu 'tuk ke sekian kalinya.

Dikau amatlah berarti dalam hidupku. Walaupun dikau bukanlah segalanya, tetapi dikau membawa daku menuju Yang Memiliki Segalanya.

...Suara Hati Seorang Ikhwan...

Monday, October 16, 2006

.:: Berkorban itu indah ::.

Telah dua bulan musim hujan berlalu sehingga dimana-mana
pepohonan nampak menghijau. Kelihatan seekor ulat di antara dedaun
menghijau yang bergoyang-goyang diterpa angin.
"Apa khabar daun hijau," katanya.
Tersentak daun hijau menoleh ke arah suara yang datang

"Oh, kamu ulat. Badanmu kelihatan kurus dan kecil, mengapa?" tanya
daun hijau.
"Aku hampir tidak mendapatkan dedaunan untuk makananku. Bolehkah
engkau membantuku sahabat?" kata ulat kecil.
"Tentu..tentu..dekatlah kemari." Daun hijau berfikir, "jika aku
memberikan sedikit dari tubuhku ini untuk makanan si ulat, aku akan
tetap hijau. Hanya sahaja aku akan kelihatan berlubang-lubang. Tapi
tak apalah."
"Perlahan-lahan ulat menggerakkan tubuhnya menuju daun hijau.

Setelah makan dengan kenyang ulat berterimakasih kepada daun
hijau yang telah merelakan bahagian tubuhnya menjadi makanan si
ulat. Ketika ulat mengucapkan terimakasih kepada sahabat yang penuh
kasih dan pengorbanan itu, ada rasa puas di dalam diri daun hijau.
Sekalipun tubuhnya kini berlubang di sana-sini namun ia bahagia
dapat melakukan sesuatu bagi ulat kecil yang lapar.

Tidak lama berselang ketika musim panas datang daun hijau menjadi
kering dan berubah warna. Akhirnya ia jatuh ke tanah, disapu orang
dan dibakar.


Apa yang terlalu bererti di hidup kita sehingga kita enggan
berkorban sedikit sahaja bagi sesama?
Nah... akhirnya semua yang ada akan "mati" bagi sesamanya yang
tidak menutup mata ketika sesamanya dalam kesukaran.
Yang tidak membelakangi dan seolah tidak mendengar ketika
sesamanya berteriak meminta tolong. Ia rela melakukan sesuatu
untuk kepentingan orang lain dan sejenak mengabaikan kepentingan
diri sendiri.

Merelakan kesenangan dan kepentingan diri sendiri bagi sesama
memang tidak mudah, tetapi indah.
Ketika berkorban diri kita sendiri menjadi seperti daun hijau yang
berlobang namun itu sebenarnya tidak mempengaruhi hidup kita, kita
akan tetap hijau, Allah akan tetap memberkati dan memelihara kita.

Bagi "daun hijau", berkorban merupakan sesuatu perkara yang
mengesankan dan terasa indah serta memuaskan. Dia bahagia
melihat sesamanya dapat tersenyum kerana pengorbanan yang ia
lakukan. Ia juga melakukannya kerana menyedari bahawa ia tidak
akan selamanya tinggal sebagai "daun hijau". Suatu hari ia akan
kering dan jatuh.

Demikianlah kehidupan kita. Hidup ini hanya sementara, kemudian kita
akan mati. Itu sebabnya isilah hidup ini dengan perbuatan-perbuatan
baik, kasih, pengorbanan, pengertian, kesetiaan, kesabaran dan
kerendahan hati.

Jadikanlah berkorban itu sebagai sesuatu yang menyenangkan dan
membawa sukacita tersendiri bagi anda. Kita dapat berkorban dalam
banyak perkara.
Mendahulukan kepentingan sesama, melakukan sesuatu bagi mereka,
memberikan apa yang kita punyai dan masih banyak lagi pengorbanan
yang dapat kita lakukan.

Yang mana yang sering kita lakukan?
Menjadi ulat kecil yang menerima kebaikan orang atau
menjadi "daun hijau" yang senang memberi.

Tuesday, October 03, 2006

Waktu adalah Kehidupan

eramuslim - Tidak yang lebih berharga dalam kehidupan ini setelah iman selain "waktu". Waktu adalah benda yang paling berharga dalam kehidupan seorang Muslim. Ia tidak dapat ditukar oleh apapun. Ia juga tidak dapat kembali jika sudah pergi. Sungguh sangat merugi orang yang menyia-nyiakan waktunya.

Saking mahalnya, Allah (sampai) bersumpah: "Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang yang beriman, beramal saleh, (saling) nasehat-menasehati dalam kebenaran dan nasehat-menasehati dalam (menapaki) kesabaran" (Qs. Al-'Ashr [103]: 1-3).
Dalam Islam, waktu bukan hanya sekadar lebih berharga dari pada emas. Atau seperti pepatah Inggris yang menyatakan time is money. Lebih dari itu, waktu dalam Islam adalah "kehidupan", al-waqtu huwa al-hayah, demikian kata as-Syahid Hasan Al-Banna. Oleh karena itu, Rasulullah saw memerintahkan umatnya agar memanfaatkan waktu yang tersisa dengan lima hal.
Beliau bersabda: "Manfaatkanlah (oleh kalian) lima hal, sebelum datang lima hal: masa mudamu sebelum tiba masa tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang waktu fakirmu, waktu luangmu sebelum datang masa sibukmu dan hidupmu sebelum datang kematianmu" (HR. Hakim. Sanadnya shahih dari Ibnu Abbas).
Pertama, masa muda. Masa muda adalah masa keemasan seorang manusia. Ia merupakan masa ideal untuk melakukan apa saja: mengukir prestasi dan menggapai cita-cita. Bahkan, masa muda adalah masa yang harus "dipertanggungjawabkan" di hadapan Allah.
Hal ini dijelaskan oleh Nabi saw: "Tidak akan tergelincir dua kaki anak Adam pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara: tentang usianya untuk apa ia habiskan, masa mudanya untuk apa ia habiskan, hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia belanjakan dan tentang ilmunya apa yang diperbuatkan dengan ilmunya tersebut" (HR. Al-Bazzar dan Al-Thabrani).
Bayangkan, setelah Allah mempertanyakan "umur", Ia mempertanyakan "masa muda" secara khusus. Dalam Islam, masa muda adalah bagian dari "umur". Ia dianggap sebagai masa yang dinamis, energik, cekatan dan kuat, karena ia merupakan "kekuatan" di antara dua kelemahan: kelemahan anak-anak dan kelemahan masa tua.
Hal ini dijelaskan oleh Allah swt dalam firman-Nya: "Allah, Dia-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban..." (Qs. Ar-Rum [30]: 54).
Oleh karenanya, Islam memiliki perhatian khusus kepada para pemuda. "Suatu ketika, khalifah Umar radhiyallahu 'anhu duduk dengan para sahabatnya. Ia berkata kepada mereka: "Berangan-anganlah kalian!" Salah seorang dari mereka berkata: "Aku berangan-angan, seandainya rumah ini dipenuhi oleh emas untuk aku infakkan di jalan Allah." Umar lalu berkata: "Berangan-anganlah (lagi) kalian!" Salah seorang lagi berkata: "Aku berangan-angan sekiranya rumah ini dipenuhi dengan permata agar aku infakkan di jalan Allah dan bersedekah dengannya." Lalu Umar berkata lagi: "Berangan-anganlah (lagi) kalian!" Mereka lalu berkata: "Kami tidak tahu lagi apa yang harus kami katakan wahai Amirul mukminin?" Umar berkata: "Aku justeru berangan-angan agar ada orang-orang seperti Abu 'Ubaidah bin Al-Jarrah, Mu'adz ibn Jabal dan Salim budak Abu Hudzaifah, agar aku dapat meninggikan "kalimat Allah" dengan bantuan mereka."
Bayangkan, Umar malah menginginkan para pemuda. Bukankah Mu'adz ibn Jabal seorang faqih yang diutus oleh Rasul ke Yaman? Ketika itu usianya masih muda. Begitu juga dengan Salim: ia termasuk salah seorang perawi hadits. Usianya juga masih muda. Dalam sejarah Islam juga dikenal Muhammad Al-Fatih, pembebas kota Konstantinopel. Saat itu usianya tidak lebih dari 22 tahun.
Tidakkah kita lihat seorang Usamah ibn Zaid pergi ke medan perang ketika usianya masih 15 tahun. Padahal ketika usinya 14 tahun semangat jihadnya sudah berapi-api: ia ingin cepat berada di shaf para mujahid Allah. Namun Nabi saw melarangnya, karena masih teramat muda. Ia juga pernah menjadi pemimpin pasukan Rasul, padahal saat itu para sahabat senior seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq ada. Namun Rasul saw mempercayakan kepadanya.

Adalah hal yang ironis jika masa muda dihabiskan untuk "berfoya-foya". Apalagi dihabiskan untuk melakukan hal-hal yang tidak produktif. Dan, na'udzubillah, jika sampai melakukan tindak kriminal yang tidak diridhai oleh Allah, seperti mengkonsumsi NAZA (Narkotika dan Zat Adiktif) dan hobi "mencekek leher botol" alias mabuk-mabukan. Ini sama artinya menghancurkan umat. Tidak dapat dibayangkan jika para pemuda justru tidak produktif. Apa yang akan dipersembahkan untuk Islam?Kedua, masa sehat. Pepatah Arab menyatakan: "As-Shihhatu tajun 'ala ru'us al-asiha' laa yaraaha illa al-mardha" (Kesehatan adalah mahkota di atas kepala orang yang sehat dan tidak ada yang dapat melihatnya kecuali orang yang sakit). Itulah kesehatan. Kita terkadang lupa akan arti dan makna kesehatan, kecuali setelah kesehatan itu hilang dari kita. Ketika "sakit" datang menggantikannya, barulah kita sadar bahwa kesehatan itu mahal. Masa sehat sebaiknya kita gunakan untuk beramal saleh: membantu orang tua, menuntut ilmu, mengamalkan ilmu, sebelum kita kita tidak bisa berbuat banyak. Kalau masa sakit sudah tiba, kita tidak akan pernah sempurna melakukan apapun: ibadah terganggu, pekerjaan terbengkalai, semangat menurun, dsb. Maka manfaatkanlah "masa sehat" ini dengan sebaik-baiknya.
Ketiga, masa kaya. Kekayaan adalah "titipan Allah". Maka, ia tidak layak untuk disombongkan dan dibanggakan. Selagai masih ada waktu dan kesempatan, pergunakanlah kekayaan itu untuk berbakti kepada Allah: membiayai edukasi anak, berinfak di jalan Allah (membangun masjid, rumah sakit, madrasah, dsb), membantu fakir miskin dan anak-anak terlantar, membiayai panti asuhan, dan lain-lain. Karena, jika sudah jatuh miskin, kesempatan untuk beramal saleh pun sirna. Maka, segeralah nafkahkan harta yang ada, sebelum semuanya sia-sia. Utsman ibn Affan adalah contoh ideal dalam berinfak. Ia membeli sumur Maimunah untuk kepentingan kaum Muslimin. Begitu juga dengan Abdurrahman ibn 'Auf. Ia adalah contoh konglomerat yang dermawan: orang kaya tapi takut harta. Lain lagi dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq: ia meninggalkan "seonggok batu" untuk keluarganya. Ia menyisakan Allah dan Rasul-Nya untuk keluarganya. Beliau bahkan berlomba dengan Umar ibn Khaththab. Akhirnya ia menang, karena Umar ibn Khaththab menafkahkan setengah dari hartanya, sedangkan ia menafkahkan seluruh hartnya di jalan Allah.
Keempat, masa luang. Waktu luang adalah kesempatan emas untuk menginventarisir kebajikan. Waktu luang ini akan sia-sia jika tidak dikontrol. Ia akan terbuang begitu saja jika tidak langsung dimanfaatkan. Oleh sebab itu makanya Nabi saw mengingatkan: "Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang (kekosongan)" (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas). Waktu luang adalah "kekosongan": kosong dari kegiatan yang positif. Jangan biarkan waktu itu kosong melompong dan berlalu tanpa makna. Tidakkah kita ingin waktu luang itu kita isi dengan membaca Alquran, shalat Dhuha, shalat Witir, shalat Tahajjud, dsb. Janganlah waktu luang itu dikhianati dengan "senda gurau" yang tak bermakna. Karena jumlah waktu itu sama di mana saja, 24 jam. Bagi tigalah ia: sebagian untuk kesehatan (istirahat, olah-raga, bercanda seperlunya), sebagian lagi untuk jasmani (makan dan minum) dan sepertiga terakhir untuk Allah.
Imam Ibnu Jarir al-Thabari menurut al-Khathib al-Baghadadi dari al-Samsiy, setiap harinya mampu menulis sekitar empat puluh lembar. Jangan berleha-leha dalam memburu kebaikan. Imporlah segala jenis kebaikan, lalu eksporlah ia ke akhirat sana. Al-Tu'adatu fi kulli syain khairun illa fi a'mal al-akhirah (Berlaku santai dalam setiap sesuatu itu baik, kecuali dalam amal akhirat), kata Umar ibn Khaththab.
Imam Nawawi ra memberikan nasehat yang sangat berharga: "Hendaklah bagi seorang penuntut ilmu untuk mengumpulkan ilmu di waktu luang dan semangat yang menggebu-gebu, masa muda dan ketika tubuh masih kuat, ketika keinginan masih menggunung dan kesibukan masih sedikit sebelum tiba hal-hal yang tanpa makna".
Kelima, hidup. Kesempatan hidup hanya sekali. Umur begitu singkat. Kita mengira umur itu begitu panjang. Padahal ia hanya terdiri dari tiga helaan nafas: nafas yang lalu, yang sudah kita hempaskan; nafas yang sedang kita hirup dan akan kita hembuskan; dan terakhir nafas yang akan datang. Kita tidak tahu apakah nafas yang akan datang itu nafas kita yang terakhir atau tidak.
Nafas-nafas itu begitu cepat berlalu. Maka sangat merugi kalau nafas-nafas itu kita biarkan terhambur tanpa arti. Padahal dalam satu menit kita bisa membaca surat Al-Fatihan dan surat Al-Ikhlas. Kita juga bisa berdzikir: mengucapkan subhanallah, Al-hamdulillah dan Allahu Akbar, dsb.
Kita hidup di dunia laksana seorang musafir. Tidak ada yang berharga bagi seoang musafir selain "bekal". Maka sejatinya, dunia ini adalah "pohon yang rindang", tempat berteduh sang musafir. Jika ia tertipu dengan indahnya pohon tempatnya berteduh, ia tidak akan sampai pada tujuan. Mau tidak mau, kita semua akan menuju kepada pintu kematian.
Maka, sebelum pergi ke sana, kita berusaha untuk memanfaatkan hidup ini dengan sebaik-baiknya. Nilai seorang Muslim bukan dinilai dari panjang pendeknya umur yang diberikan oleh Allah. Tapi akan dinilai dari apa yang diperbuatnya untuk Allah, untuk Islam. Umur yang panjang bukan jaminan kebaikan. Bisa jadi umur yang panjang malah semakin membuka pintu-pintu maksiat. Bisa jadi umur yang singkat, jika di-manage dengan baik, malah menjadi sangat bermanfaat.
"Khairu al-naasi man thala 'umruhu wa hasuna 'amaluhu, wa syarr al-nasi man thala 'umruhu wa sa’a 'amaluhu" (Sebaik-baik manusia adalah yang panjang usianya dan baik amalnya. Dan sejelek-jelek manusia adalah yang umurnya panjang namun jelek amalnya) (HR. Ahmad dan al-Turmudzi dari Abu Bakrah).
Sebelum maut menjelang, mari kita hiasi hidup kita dengan amal saleh. Mudah-mudahan usia yang tersisa benar-benar menjadi lebih bermakan. Sehingga kita termasuk hamba Allah yang menghargai nikmat waktu yang diberikan. Ingatlah! Waktu adalah kehidupan.
Wallahu a'lamu bi al-shawab.
Ibnoe Dzulhadi

Madrasah Cinta

Oleh: Bayu Gawtama

Apa yang paling dinanti seorang wanita yang baru saja menikah? Sudah pasti jawabannya adalah kehamilan. Seberapa jauh pun jalan yang harus ditempuh, seberat apa pun langkah yang mesti diayun, seberapa lama pun waktu yang kan dijalani, tak kenal menyerah demi mendapatkan satu kepastian dari seorang bidan; “positif”.

Meski berat, tak ada yang membuatnya mampu bertahan hidup kecuali benih dalam kandungannya. Menangis, tertawa, sedih dan bahagia tak berbeda baginya, karena ia lebih mementingkan apa yang dirasa si kecil di perutnya. Seringkali ia bertanya; menangiskah ia? Tertawakah ia? Sedih atau bahagiakah ia di dalam sana? Bahkan ketika waktunya tiba, tak ada yang mampu menandingi cinta yang pernah diberikannya, ketika mati pun akan dipertaruhkannya asalkan generasi penerusnya itu bisa terlahir ke dunia. Rasa sakit pun sirna sekejap mendengar tangisan pertama si buah hati, tak peduli darah dan keringat yang terus bercucuran. Detik itu, sebuah episode cinta baru saja berputar.
Tak ada yang lebih membanggakan untuk diperbincangkan selain anak-anak. Tak satu pun tema yang paling menarik untuk didiskusikan bersama rekan sekerja, teman sejawat, kerabat maupun keluarga, kecuali anak-anak. Si kecil baru saja berucap “Ma…” segera ia mengangkat telepon untuk mengabarkan ke semua yang ada di daftar telepon. Saat baru pertama berdiri, ia pun berteriak histeris, antara haru, bangga dan sedikit takut si kecil terjatuh dan luka. Hari pertama sekolah adalah saat pertama kali matanya menyaksikan langkah awal kesuksesannya. Meskipun di saat yang sama, pikirannya terus menerawang dan bibirnya tak lepas berdoa, berharap sang suami tak terhenti rezekinya. Agar langkah kaki kecil itu pun tak terhenti di tengah jalan.
“Demi anak”, “Untuk anak”, menjadi alasan utama ketika ia berada di pasar berbelanja keperluan si kecil. Saat ia berada di pesta seorang kerabat atau keluarga dan membungkus beberapa potong makanan dalam tissue. Ia selalu mengingat anaknya dalam setiap suapan nasinya, setiap gigitan kuenya, setiap kali hendak berbelanja baju untuknya. Tak jarang, ia urung membeli baju untuknya dan berganti mengambil baju untuk anak. Padahal, baru kemarin sore ia membeli baju si kecil. Meski pun, terkadang ia harus berhutang. Lagi-lagi atas satu alasan, demi anak.
Di saat pusing pikirannya mengatur keuangan yang serba terbatas, periksalah catatannya. Di kertas kecil itu tertulis: 1. Uang sekolah anak, 2. Beli susu anak, … nomor urut selanjutnya baru kebutuhan yang lain. Tapi jelas di situ, kebutuhan anak senantiasa menjadi prioritasnya. Bahkan, tak ada beras di rumah pun tak mengapa, asalkan susu si kecil tetap terbeli. Takkan dibiarkan si kecil menangis, apa pun akan dilakukan agar senyum dan tawa riangnya tetap terdengar.
Ia menjadi guru yang tak pernah digaji, menjadi pembantu yang tak pernah dibayar, menjadi pelayan yang sering terlupa dihargai, dan menjadi babby sitter yang paling setia. Sesekali ia menjelma menjadi puteri salju yang bernyanyi merdu menunggu suntingan sang pangeran. Keesokannya ia rela menjadi kuda yang meringkik, berlari mengejar dan menghalau musuh agar tak mengganggu. Atau ketika ia dengan lihainya menjadi seekor kelinci yang melompat-lompat mengelilingi kebun, mencari wortel untuk makan sehari-hari. Hanya tawa dan jerit lucu yang ingin didengarnya dari kisah-kisah yang tak pernah absen didongengkannya. Kantuk dan lelah tak lagi dihiraukan, walau harus menyamarkan suara menguapnya dengan auman harimau. Atau berpura-pura si nenek sihir terjatuh dan mati sekadar untuk bisa memejamkan mata barang sedetik. Namun, si kecil belum juga terpejam dan memintanya menceritakan dongeng ke sekian. Dalam kantuknya, ia terus pun mendongeng.
Tak ada yang dilakukannya di setiap pagi sebelum menyiapkan sarapan anak-anak yang akan berangkat ke kampus. Tak satu pun yang paling ditunggu kepulangannya selain suami dan anak-anak tercinta. Serta merta kalimat, “Sudah makan belum?” tak lupa terlontar saat baru saja memasuki rumah. Tak peduli meski si kecil yang dulu kerap ia timang dalam dekapannya itu sudah menjadi orang dewasa yang bisa membeli makan siangnya sendiri di kampus.
Hari ketika si anak yang telah dewasa itu mampu mengambil keputusan terpenting dalam hidupnya, untuk menentukan jalan hidup bersama pasangannya, siapa yang paling menangis? Siapa yang lebih dulu menitikkan air mata? Lihatlah sudut matanya, telah menjadi samudera air mata dalam sekejap. Langkah beratnya ikhlas mengantar buah hatinya ke kursi pelaminan. ia menangis melihat anaknya tersenyum bahagia dibalut gaun pengantin. Di saat itu, ia pun sadar buah hati yang bertahun-tahun menjadi kubangan curahan cintanya itu tak lagi hanya miliknya. Ada satu hati lagi yang tertambat, yang dalam harapnya ia berlirih, “Masihkah kau anakku?”
Saat senja tiba. Ketika keriput di tangan dan wajah mulai berbicara tentang usianya. Ia pun sadar, bahwa sebentar lagi masanya kan berakhir. Hanya satu pinta yang sering terucap dari bibirnya, “Bila ibu meninggal, ibu ingin anak-anak ibu yang memandikan. Ibu ingin dimandikan sambil dipangku kalian”. Tak hanya itu, imam shalat jenazah pun ia meminta dari salah satu anaknya. “Agar tak percuma ibu mendidik kalian menjadi anak yang shalih sejak kecil,” ujarnya.
Duh ibu, semoga saya bisa menjawab pintamu itu kelak. Bagaimana mungkin saya tak ingin memenuhi pinta itu? Sejak saya kecil ibu telah mengajarkan arti cinta sebenarnya. Ibulah madrasah cinta saya, sekolah yang hanya punya satu mata pelajaran: cinta. Sekolah yang hanya ada satu guru: pecinta. Sekolah yang semua murid-muridnya diberi satu nama: yang dicinta.**

Allah, Indah Nian TeguranMu (Catatan Dakwah Aktivis LDK)

eramuslim - Astaghfirullah! Mataku memanas, seluruh persendian tubuhku terasa lemas. Segera kututup satu demi satu situs internet yang ketelusuri dari tadi. Buru-buru kurapikan disket dan kertas-kertasku, lalu menuju kasir warnet. Ah, Allah … kuatkan hambaMu. Di komputer sebelah kasir, selintas kulihat bayangannya. Allah … Bantu hamba.

Air mataku mulai menetes, saat langkahku kuayun meninggalkan warnet. Aku bingung, harus kemana melangkahkan kaki. Ke wartel … tidak, aku tidak sedang ingin curhat pada siapa pun saat ini. Pergi rapat … tidak, demi Allah, aku tidak ingin bertemu dengan siapa pun saat-saat seperti ini. Kuputuskan untuk pulang, aku ingin menghadap Allah memohon ampunanNya. Air mataku terus mengalir di sepanjang perjalanan. Tak kupedulikan tatapan heran orang-orang di bus kota. Aku malu … Allah, ampuni aku.
Ku basuh anggota wudhu’, lalu kubuka mushaf Al-quran. Peristiwa tadi membayang kembali. Curhat dengan seorang ikhwan lewat chatting..
Sejenak aku tertegun, curhat? Kuingat lagi kalimat-kalimat yang kutulis tadi. Ya Allah … kenapa aku sampai lalai? Astaghfirullah, tanpa sadar aku telah membuka peluang bagi setan untuk ‘meracuni’ hati ini.
Sebulan belakangan, amanahku memang menumpuk. Seringkali aku sampai di rumah lebih jam delapan malam, setelah seharian di luar. Itu pun masih harus bergadang sampai jam 12 atau jam 1 malam. Qiyamul-lail pun sering berlalu begitu saja, hampir tak berbekas. Qiroah quran sekedar mengejar target. Terasa Allah jauh dari hati. Sampai hari itu … sejak pagi kondisi kesehatanku sudah kurang baik, aku tidak makan sejak malam. Beban pikiran pun menumpuk karena banyak anggota yang tidak melaksanakan amanahnya. Sorenya ada janji chatting.
* * *
Selesai membaca beberapa halaman Al-quran, kutemui seorang ukhti untuk minta taushiyah. Cukup lama rasanya aku tak pernah mendapat taushiyah dari akhwat.
“Di satu sisi, ukhti layak mengintrospeksi diri, kenapa ini bisa terjadi? Jawaban paling mungkin adalah hati ukhti sedang jauh dari Allah, dan mungkin ikhwan tersebut juga sedang dalam kondisi yang sama. Ana lihat, ibadah ukhti menurun belakangan ini, dan kondisi seperti ini memang sangat rentan. Ana tahu, beban ukhti sekarang sangat berat, dan ukhti tak punya teman berbagi, tak punya senior tempat menumpahkan keluh kesah. Ana juga minta maaf karena kesibukan selama ini, tidak bisa banyak membantu. Tapi di sisi lain, ukhti masih harus bersyukur. Antuma masih dijaga Allah dari dosa yang lebih jauh. Antuma masih diberikan Allah ‘kepekaan spiritual’ untuk bisa melihat kemaksiatan, hingga antuma segera tersadar.
Sekarang, banyak ikhwan dan akhwat yang terjerumus dalam pergaulan tidak Islami. Rapat berdua, makan di cafe satu meja, apalagi sekedar curhat-curhatan, itu sudah biasa bahkan sampai masalah pribadi. Naudzu billah, kalau kondisi ini menjadi penyebab jauhnya pertolongan Allah dari dakwah yang kita lakukan sekarang.
Sekarang tinggal bagaimana ukhti menata hati lagi. Ana yakin, ini adalah sebuah ‘hadiah’ indah dari Allah untuk anti, bahwa beban berat dakwah ini menuntut kesiapan yang lebih besar. Ana yakin, anti bisa menjaga hati, hanya saja kadang maksiat besar berawal dari hal-hal kecil seperti tadi. Makanya jangan sampai dianggap remeh. Sekali lagi, ana yakin, ukhti termasuk orang-orang pilihan Allah. Tegarlah ukhti, dan … JAGA HATI EKSTRA HATI-HATI. Ini yang pertama dan terakhir ya …;-)”.
Shalat maghrib kali ini terasa amat menentramkan. Dengan sepenuh raja’ dan khauf, kuhadapkan diri ini pada rabb semesta alam. Kurasakan kedamaian menjalar bersama aliran darahku. Allah … betapa luas rahmatMu, betapa Engkau telah menjagaku dari kubangan dosa. Terasa teguran Allah melantun indah. Seolah Allah menegurku untuk jeda sejenak, mengingat kebesaranNya. Tiadalah manfaat setumpuk amal, kalau niat tak ikhlas, dan caranya tak sesuai syariat. Amal dan maksiat selamanya tak kan pernah bisa berdampingan. Karenanya, para pelaku dakwah harus senantiasa ‘membasuh’ jiwanya, seiring perjalanan dakwah yang dilalui.
Spesial: buat ‘ukhti kecilku’, jaga hati ya dedek. Jangan biarkan noda-noda hitam mengotori hatiMu yang Allah jadikan suci. Biarkan dakwah membawamu dekat padaNya, bukan sebaliknya. Perjalananmu masih panjang. Kakak masih setia di sini, menjadi tumpahan gundahmu, setia menemani langkahmu menuju ridhoNya. (Thanks for inspiration). Teruntuk juga buat generasi penerus di kampus, ikhwan dan akhawat, jagalah kemurnian dakwah ini dengan akhlak Islami. Semoga Allah memudahkan jalan yang kita lalui.

syahidah01

Monday, October 02, 2006

.:: Koleksi Gambar Bagian III ::.

Ini Koleksi gambar teakhir deh. Sueeerr...










.:: Koleksi Gambar Bagian II ::.

Ini terusan dari Koleksi Gambar Bagian I, choyy... :)










.:: Koleksi Gambar Bagian I ::.

Download-lah gambar-gambar ini sesukamu, mumpung gratis... ^_^... :) Gitu Loch...










Tuesday, September 26, 2006

Kenalan


Assalamu'alaikum wr. wb.


My Identity

Nama : Soni Munandar Az-Zulfy
TTL : Bandung, 29 Oktober 1983
Alamat : Jl. Pesantren V No. 188 RT. 05/15
Kelurahan Cibabat
Kecamatan Cimahi Utara
Kota Cimahi
Kodepos 40513
Hobby : Dengerin & Nyanyi Nasyid/Munsyid (Artis kali yeee...)
E-Mail : sony29z@yahoo.com / sony29z@telkom.net / sm29az@plasa.com

Kalo ada yang ingin kenalan sama diriku, aku tunggu e-mail nya. ok.....